Sungai-Sungai di Jakarta Tercemar, Apa Yang Harus Dilakukan?

Sungai-Sungai di Jakarta Tercemar, Apa Yang Harus Dilakukan?

Sungai-Sungai di Jakarta Tercemar, Apa Yang Harus Dilakukan?

Sungai-Sungai di Jakarta Tercemar, Apa Yang Harus Dilakukan?

infojkt.com – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mempublikasi temuan mereka, pencemaran di sungai-sungai di Jakarta ada di fase sedang dan berat. Kualitas air dari sungai-sungai tersebut untuk kehidupan warga Jakarta, patut diteliti.

Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, menegaskan bahwa Pemprov DKI secara rutin melakukan pemantauan kualitas lingkungan air yang ada di sungai-sungai di Jakarta.

Kepala Bagian Humas Dinas Lingkungan Hidup, Yogi Ikhwan menyampaikan bahwa pemantauan kualitas air sungai di Jakarta dilakukan minimal dua kali dalam satu tahun.

Namun, ia mengakui, masih ada terdapat sejumlah kandungan yang belum masuk dalam inventaris Dinas Lingkungan Hidup sebagai jenis limbah.

“Memang mikroplastik merupakan emerging polutan yang belum diatur bakumutunya,” kata Yogi kepada merdeka.com, Rabu (13/4).

Selain itu, upaya Dinas Lingkungan Hidup dalam memulihkan dan menjaga kualitas air sungai memberikan edukasi kepada warga agar tidak membuang sampah.

Dari belasan sungai, Sungai Ciliwung menjadi salah satu titik fokus Dinas Lingkungan Hidup dalam menangani sampah badan air khususnya sampah plastik.

Dia berujar, penanganan sampah sepanjang aliran Sungai Ciliwung hingga ke muara dapat dilakukan secara manual maupun menggunakan alat secara teknis.

“Berbagai metode penanganan mulai dari penyisiran, menggunakan sekatan, saringan sampah, kapal dan alat berat dilakukan,” imbuhnya.

Pencemaran sungai di Jakarta tidak hanya soal limbah plastik. Dari temuan WALHI, air dari sungai-sungai di Jakarta juga terkontaminasi bakteri e-coli. Diduga, hasil ekresi ikan sapu-sapu yang dikonsumsi oleh manusia.

Bagaimana, pandangan pakar gizi mengenai konsumsi ikan sapu-sapu?

Ahli gizi masyarakat dr Tan Shot Yen menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu masih satu keluarga dengan jenis lele atau catfish.

Karakteristik ikan sapu-sapu merupakan ikan yang tergolong kuat. Itu sebabnya, ikan tersebut mampu beradaptasi dengan baik meski di lingkungan tercemar.

“Hal ini yang mempengaruhi daging ikan sapu-sapu mengandung berbagai jenis logam berbahaya tingkat tinggi, misalnya seperti merkuri, timbal, dan logam berat lainnya. Dan tentu cemaran E-Coli, bakteri penanda cemaran tinja,” kata Tan.

Menurutnya, ikan sapu-sapu, dapat dikonsumsi jika ikan tersebut dibudidayakan, bukan hasil tangkapan dari sungai.

Dia kemudian menegaskan, bahwa sungai yang terdapat ikan sapu-sapu bukan sebagai indikator sungai tersebut dapat dipastikan sungai tercemar.

“Tidak sebagai indikator sungai itu tercemar, karena ikan tersebut memakan lumut juga, ganggang di sungai,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD DKI, Ida Mahmudah turut menanggapi temuan WALHI tentang pencemaran sungai. Dari sejumlah temuan penyebab pencemaran sungai, Ida menyayangkan limbah tinja dari beberapa warga Jakarta yang diduga tidak memiliki septik tank.

Dia mendorong agar Pemprov DKI Jakarta membantu warga untuk membangun septic tank.

“Kami dorong buat bantu warga yang belum punya septic tank komisi sudah minta Dinas Sumber Daya Air wajib bantu membuatkan terutama buat padat penduduk,” ujar Ida.

Berita dikutip dari merdeka.com. Bantu infojkt.com berkembang dengan share berita ini, kami berusaha untuk menampilkan berita atau informasi terupdate seputar Jakarta.

Punya berita seputar Jakarta? Mention akun sosial media kita ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: